ABDI JURNALIS – Di tengah keluhan mahalnya biaya pendidikan dan ramainya pungutan berkedok uang komite di sejumlah sekolah, SMA Negeri 1 Ogan Komering Ulu justru tampil berbeda.
Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Baturaja itu membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu harus dibayar mahal oleh orang tua siswa.
Tanpa pungutan uang komite, tanpa biaya tambahan untuk perlengkapan kelas, bahkan hingga kebutuhan spidol dan alat kebersihan, SMAN 1 OKU tetap mampu menjaga reputasinya sebagai sekolah unggulan di Sumatera Selatan.
Di balik prestasi tersebut, ada pola pengelolaan sekolah yang disiplin, transparan, dan bertumpu pada kekuatan guru serta motivasi belajar siswa.
Sekolah Gratis Tanpa Bebani Orang Tua
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 OKU, Hellen Ervina, mewakili Plt Kepala Sekolah Rosadi, menegaskan seluruh kebutuhan operasional pembelajaran di sekolah ditopang dari optimalisasi dana bantuan operasional pemerintah.
Karena itu, siswa tidak dibebani biaya tambahan dalam bentuk apa pun.
“Di sekolah kami tidak ada uang komite, satu rupiah pun tidak ada. Semua kebutuhan kelas disiapkan sekolah,” ujar Hellen saat ditemui di ruang kerjanya.
Kebijakan itu membuat SMAN 1 OKU menjadi contoh bahwa sekolah negeri tetap bisa berkembang tanpa membebani wali murid.

Pelaksana Tugas Kepala Sekolah Rosadi, S.Pd., M.M.
Kunci Utama Ada pada Guru dan Kultur Sekolah
Meski tanpa pungutan, kualitas pendidikan di SMAN 1 OKU tetap terjaga.
Menurut Hellen, kekuatan utama sekolah bukan semata fasilitas, melainkan kultur disiplin para guru dan semangat belajar siswa.
Para guru memiliki komitmen tinggi menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan optimal. Jam pelajaran tidak boleh kosong kecuali untuk urusan dinas yang benar-benar mendesak.
Bahkan ketika sekolah mengalami kekosongan kepala sekolah definitif, proses pendidikan tetap berjalan stabil tanpa gangguan berarti.
Tak Ada Kelas Favorit atau Kelas Elite
Hal menarik lainnya, SMAN 1 OKU tidak menerapkan sistem kelas unggulan ataupun kelas khusus siswa pintar.
Semua siswa mendapat fasilitas belajar yang sama tanpa pengelompokan berdasarkan kemampuan akademik.
Sekolah memilih pemerataan kualitas pengajaran agar tidak muncul sekat sosial maupun diskriminasi di lingkungan sekolah.
Namun untuk pembinaan khusus seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), sekolah tetap melakukan seleksi terbuka berdasarkan bakat dan kemampuan siswa.
Siswa yang lolos pembinaan akan mendapat tambahan jam belajar intensif di luar jadwal reguler.
Gawai Bukan Musuh, Tapi Dijadikan Media Pendidikan
Di tengah kekhawatiran penggunaan ponsel di sekolah, SMAN 1 OKU justru memilih pendekatan berbeda.
Sekolah tidak melarang siswa membawa gawai, tetapi mengarahkan penggunaannya menjadi media pendidikan karakter.
Setiap Sabtu pagi, siswa mengikuti program literasi digital selama sekitar 15 hingga 20 menit.
Guru membagikan materi edukatif melalui ponsel siswa, mulai dari etika pergaulan, penghormatan kepada orang tua, hingga nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah membaca materi tersebut, siswa diminta membuat refleksi dan ringkasan pribadi yang kemudian dibahas bersama guru di kelas.
Program ini dinilai efektif untuk mengurangi dampak negatif penggunaan gadget, termasuk mencegah kecanduan judi online dan perundungan siber.
Jalur Afirmasi Diperketat Agar Tepat Sasaran
Dalam proses penerimaan siswa baru, SMAN 1 OKU juga memperketat sistem seleksi jalur afirmasi.
Sekolah mewajibkan calon siswa memiliki dokumen resmi seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah tervalidasi pemerintah pusat.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kuota siswa kurang mampu benar-benar diterima oleh mereka yang berhak.
Jika jumlah pendaftar melebihi kuota, sistem akan melakukan seleksi otomatis berdasarkan jarak rumah dan usia calon siswa.
Lulusan Tembus Kampus Bergengsi
Strategi pembinaan akademik yang dilakukan sekolah mulai menunjukkan hasil signifikan.
Pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026, jumlah siswa SMAN 1 OKU yang lolos perguruan tinggi negeri mengalami peningkatan tajam.
Hingga pertengahan Mei 2026, tercatat sekitar 50 siswa berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi negeri ternama, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jumlah itu diperkirakan masih akan bertambah dari jalur sekolah kedinasan dan Universitas Pertahanan (Unhan).
Kendala Justru Bukan Dana, Tapi Lahan Sekolah
Berbeda dengan banyak sekolah lain yang kekurangan fasilitas, SMAN 1 OKU justru menghadapi persoalan keterbatasan lahan.
Ketersediaan laboratorium dan buku perpustakaan dinilai sudah cukup memadai.
Namun area sekolah yang sudah padat membuat pihak sekolah kesulitan membangun ruang baru meskipun sempat mendapat tawaran bantuan revitalisasi fisik dari pemerintah provinsi.
Keberhasilan SMAN 1 OKU ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh besarnya pungutan kepada orang tua siswa.
Kunci utamanya terletak pada transparansi pengelolaan anggaran, komitmen guru, dan budaya sekolah yang sehat dalam membentuk generasi unggul dan berkarakter.




