Lahan Sudah Dikuasai Tambang, Warga Gunung Kuripan Tuntut Hak ke PT AOC

admin

OGAN KOMERING ULU – Puluhan warga Desa Gunung Kuripan, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), mendatangi areal kantor PT Abadi Ogan Cemerlang (AOC) untuk menuntut janji perusahaan yang hingga kini belum direalisasikan.

Aksi unjuk rasa yang diikuti sekitar 53 warga itu berlangsung panas. Warga menagih janji pekerjaan dan kompensasi yang disebut pernah disepakati saat perusahaan membebaskan lahan milik masyarakat untuk kegiatan tambang.

Namun harapan warga untuk mendapatkan kepastian justru berujung kekecewaan. Mediasi antara warga dan pihak perusahaan yang difasilitasi pemerintah kecamatan, aparat kepolisian, serta TNI, berakhir tanpa kesepakatan.

Plt Sekretaris Kecamatan Pengandonan, Musiri Mulyadi, membenarkan adanya aksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa tuntutan warga muncul karena lahan mereka sudah lebih dulu dikuasai perusahaan, namun janji pekerjaan yang diberikan belum seluruhnya dipenuhi.

“Ada sekitar 53 warga yang melakukan aksi di kantor PT AOC. Setelah dimediasi, belum juga menemukan titik temu,” ujar Musiri, Selasa (12/05).

Menurut Musiri, dari total 53 warga yang ikut aksi, sebanyak 36 orang sebenarnya sudah pernah bekerja di perusahaan. Namun sisanya, sebanyak 17 warga, hingga kini belum juga mendapatkan pekerjaan meski lahan mereka terdampak aktivitas tambang PT AOC.

“Yang jadi persoalan, ada warga yang lahannya sudah terkena tambang tapi belum pernah dipekerjakan,” jelasnya.

Tidak hanya menuntut pekerjaan, warga juga meminta perusahaan membayar kompensasi masa tunggu sebesar Rp500 ribu per bulan bagi warga yang belum direkrut bekerja.

Sayangnya, menurut pihak kecamatan, kompensasi tersebut belum pernah diberikan oleh perusahaan.

“Dalam mediasi itu perusahaan belum bisa mengambil keputusan. Jadi pertemuan mengalami deadlock,” kata Musiri.

Di sisi lain, warga mengaku kecewa karena sejak awal mereka rela menjual tanah dengan harga murah setelah dijanjikan akan diterima bekerja di PT AOC.

“Kami ini hanya menagih janji. Dari awal tanah kami dibeli perusahaan, kami dijanjikan pekerjaan,” ungkap salah seorang warga.

Warga menyebut iming-iming pekerjaan menjadi alasan utama mereka bersedia melepas tanah kepada perusahaan dengan harga yang dinilai tidak tinggi.

“Kami mau jual tanah murah karena dijanjikan bisa kerja di perusahaan,” katanya lagi.

Salah seorang peserta aksi bahkan mengaku dirinya pernah bekerja melalui pihak ketiga atau rekanan PT AOC. Namun saat ini dirinya sudah tidak lagi bekerja dan berharap dapat direkrut langsung oleh perusahaan.

“Yang jelas kami ingin bekerja karena tanah kami sudah dibeli murah oleh PT AOC,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT AOC, Aman Subagio, belum memberikan penjelasan rinci terkait aksi warga tersebut. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, ia hanya meminta agar media menghubungi Kepala Teknik Tambang (KTT) PT AOC, Muhammad Aditya Zulkarnain.

Namun hingga berita ini diturunkan, nomor telepon KTT PT AOC tidak aktif dan pesan WhatsApp yang dikirim hanya menunjukkan tanda centang satu. ***

BACA  JUGA